Pendalaman Quantum Learning

Pengertian Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika (logic smart) merupakan kemampuan seseorang dalam menghitung, mengukur, dan menyelesaikan hal-hal yang bersifat matematis. Secara bahasa, logika berasal dari kata logos (bahasa Yunani), yang artinya kata, ucapan, pikiran. Kecerdasan logika dikenalkan oleh Prof. Howard Garner, Kecerdasan logika matematika sering dipandang dan dihargai lebih tinggi dari jenis-jenis kecerdasan lainnya. Kecerdasan ini dicirikan sebagai kemampuan yang dimiliki otak kiri.

Berikut ini beberapa pengertian kecerdasan logika matematika dari beberapa sumber buku:
• Menurut Bobi de Porter, kecerdasan logika matematika (logis mathematis) merupakan kecerdasan yang mencakup kemampuan menghitung, bereksperimen mengungkap fakta dan kemampuan memecahkan masalah-masalah matematika (Suparlan, 2004:47).
• Menurut Amstrong, Logic smart (kecerdasan logis) adalah kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kemampuan ini, meliputi kemampuan menyelesaikan masalah, mengembangkan masalah, dan menciptakan sesuatu dengan angka dan penalaran, cerdas secara matematis-logis berarti cerdas angka dan cerdas dalam hukum logika berpikir penalaran (Musfiroh, 2008:3).
• Menurut Prasetyo & Andriani (2009:50), kecerdasan logika adalah kapasitas untuk menggunakan angka, berfikir logis untuk menganalisa permasalahan atau kasus dan juga melakukan perhitungan matematis.
• Menurut Hamzah B. Uno dkk (2010:11), kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan seseorang dalam berfikir secara induktif dan deduktif, berfikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir.
• Menurut May Lwin, dkk (2008:43), kecerdasan logika-matematika merupakan kemampuan untuk menangani bilangan, perhitungan, pola, pemikiran logis, dan ilmiah.

Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan logika-matematika merupakan kemampuan seseorang dalam menghitung, mengukur, menggunakan angka-angka, memecahkan soal-soal matematis, berpikir secara deduktif dan induktif, serta membuat pola-pola dan hubungan-hubungan yang logis dalam kehidupan sehari hari.

Ciri-ciri Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika mempunyai karakteristik atau ciri-ciri yang dapat membedakan dengan jenis-jenis kecerdasan lainnya, yaitu sebagai berikut (Linda Campbell, dkk, 2002:41):
1. Merasakan berbagai tujuan dan fungsi mereka dalam lingkungannya.
2. Mengenal konsep-konsep yang bersifat kuantitas, waktu dan hubungan sebab dan akibat.
3. Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menunjukkan secara nyata (konkret), baik objek maupun konsep-konsep.
4. Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah secara logis.
5. Memahami pola-pola dan hubungan-hubungan.
6. Mengajukan dan menguji hipotesis.
7. Menggunakan bermacam-macam keterampilan matematis seperti memperkirakan (estimating), perhitungan algoritme (calculating algorithms), menafsirkan statistik (interpreting statistics), dan menggambarkan informasi visual dalam bentuk grafik (gambar).
8. Menyukai operasi yang kompleks seperti kalkulus, fisika, pemrograman komputer, atau metode penelitian.
9. Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti, membuat hipotesis, merumuskan berbagai model, mengembangkan contoh-contoh tandingan dan membuat argumen-argumen yang kuat.
10. Menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah matematis.
11. Mengungkapkan ketertarikan dalam karir-karir seperti akuntansi, teknologi komputer, hukum, mesin dan ilmu kimia.
12. Menciptakan model-model baru atau memahami wawasan baru dalam ilmu pengetahuan alam dan matematika.

Anak yang memiliki kecerdasan logis-matematis yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab akibat terjadi sesuatu. Ia menyenangi berfikir secara konseptual, misalnya menyusun hipotesis, mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Anak semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika (Hamzah B. Uno dkk, 2010:11).

Sedangkan menurut Masykur dan Fathani (2008:105-106), seseorang yang memiliki kecerdasan logika matematika memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala.
2. Suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?.
3. Ahli dalam permainan catur, halma, dan sebagainya.
4. Mampu menjelaskan masalah secara logis.
5. Suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu.
6. Menghabiskan waktu dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam matematika dan IPA.

Komponen Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan matematika dibedakan dalam enam komponen, yaitu: (1) kemampuan abstraksi, (2) kemampuan logika berpikir, (3) pemahaman yang spesifik, (4) kekuatan intuitif, (5) kemampuan menggunakan rumus / formula, (6) daya ingat/imajinasi berpikir matematika.
Menurut Haecker dan Ziehen, prinsip dasar dari pola pikir matematika terbagi kedalam empat komponen, yaitu (Rikayanti, 2005:32):
1. Komponen spasial yang terdiri dari (a) memahami bentuk bangun ruang dan kompleksitasnya; (b) ingatan terhadap bentuk bangun ruang; (c) abstraksi spasial/ kemampuan dalam menggeneraliasi bentuk dalam ruang dan objek; (d) kombinasi spasial/ ruang yakni memahami dan memiliki kemandirian dalam menemukan generalisasi, koneksi dan relasi antara objek bangun ruang.
2. Komponen logika yang terdiri dari (a) menyusun/ memahami konsep dan keterkaitan antar konsep; (b) memahami, mengingat dan mandiri dalam memberikan konklusi/ kesimpulan dan membuktikan berdasarkan bukti formal yang logis.
3. Komponen numerik yang terdiri dari (a) memahami/ menyusun konsep bilangan; (b) ingatan mengenai bilangan/ pola dan mencari solusi yang berkaitan dengan bilangan.
4. Komponen simbolisasi yang terdiri dari (a) memahami simbol; (b) mengingat simbol; (c) mengoperasikan dan menggunakan simbol.

Menurut Linda & Bruce Campbell, kecerdasan logika matematika biasanya melibatkan beberapa komponen, yaitu perhitungan secara matematis, pemecahan masalah, pertimbangan induktif (penjabaran ilmiah dari khusus ke umum), pertimbangan deduktif (penjabaran ilmiah secara umum ke khusus), dan ketajaman pola-pola serta hubungan-hubungan (Masykur dan Fathani, 2008:153).

Cara Melatih Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika adalah kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berfikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual dan pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk merangsang kecerdasan logika matematika adalah sebagai berikut (Aqila Smart, 2012:111-112):

1. Tempelkan poster-poster matematika, seperti perkalian, penjumlahan, pengurangan, dan lain-lain.
2. Ajarkan kepadanya cara hitung yang menyenangkan dan mudah dilakukan di mana saja, misalnya dengan jari.
3. Beri dia alat untuk menghitung seperti sempoa bila ia belum lancar menghitung.
4. Belikan komik-komik matematika dan pelajaran lainnya untuk mengatasi kelemahannya pada pelajaran lain.
5. Stimulasi dengan program komputer yang mengajarkan teknik membaca logis.
6. Jika mempunyai waktu luang, ajak anak bermain permainan yang menggunakan logika untuk menenangkannya, misalnya catur, teka-teki, tebak-tebakan, dan lain-lain

Daftar Pustaka
• Rikayanti. 2005. Skripsi: Pengaruh Asesment Fortopolio Dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Kecerdasan Logis Matematis Siswa. Bandung: FPMIPA UPI.
• Aqila Smart. 2012. Hypnoparenting: Cara Cepat Mencerdaskan Anak Anda. Yogyakarta: Starbooks.
• Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Dari konsepsi Sampai Dengan Implementasi. Jakarta: Hikayat.
• Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Cerdas Melalui Bermain. Jakarta: Grasindo.
• Prasetyo, Reza dan Yeni Andriani. 2009. Multiply Your Multiple Intelligences. Yogyakarta: Andi.
• Uno, Hamzah B., Umar, Masri Kudrat. 2010. Mengelola kecerdasan dalam pembelajaran: sebuah konsep pembelajaran berbasis kecerdasan. Jakarta: Bumi Aksara.
• Lwin, May dkk. 2008. Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Yogyakarta: INDEKS.
• Campbell, Linda, dkk. 2002. Melesatkan Kecerdasan. Depok: Insiasi Press.

Pengertian Kecerdasan Interpersonal

Gardner dalam Efendi (2005) menyatakan kecerdasan yaitu suatu kemampuan untuk memecahkan dan kemampuan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai budaya. Berdasarkan konsep ini Gardner menemukan bahwa kecerdasan insan tidak tunggal tapi ganda bahkan tak terbatas. Gardner menemukan delapan kecerdasan yang dimiliki manusia, yang disebutnya dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Kedelapan kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan naturalis, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan interpersonal.
Kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain (Amstrong, 2002). Kecerdasan ini menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Kecerdasan interpersonal akan menyampaikan kemampuan anak dalam berafiliasi dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal yang tinggi membuat orang bisa bekerjasama dengan orang lain dan melaksanakan sinergi untuk membuahkan hasil-hasil positif (Lie, 2003).
Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi akan bisa menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, bisa berempati secara baik, bisa mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, menyukai bekerja secara kelompok. Kecerdasan interpersonal bisa dikatakan juga sebagai kecerdasan sosial, diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun kekerabatan dan mempertahankan kekerabatan sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menguntungkan (Safaria, 2005).
Lwin (2008) menjelaskan kecerdasan interpersonal sebagai kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan harapan orang lain kemudian menanggapinya secara layak.
Definisi lain diungkapkan oleh Tan (2008) dalam jurnal Sibel, et al (2013) yaitu:
“Interpersonal (social) intelligence is the capacity of understanding, distinguishing and welcoming the emotions, aspirations and needs of surrounding people”
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan untuk memahami maksud dan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal penting dalam kehidupan insan alasannya pada dasarnya insan tidak bisa menyendiri. Banyak kegiatan dalam hidup insan terkait dengan orang lain, begitu juga seorang anak yang membutuhkan perlindungan orang-orang disekitarnya.

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan interpersonal menurut Yaumi (2012) adalah:
1. Belajar dengan sangat baik dikala berada dalam situasi yang membangun interaksi antara satu dengan yang lainnya.
2. Semakin banyak berafiliasi dengan orang lain, semakin merasa bahagia.
3. Sangat produktif dan berkembang dengan pesat dikala mencar ilmu secara kooperatif dan kolaboratif.
4. Ketika menggunakan interaksi jejaring sosial, sangat senang dilakukan dengan chatting atau teleconference.
5. Merasa senang berpartisipasi dalam organisasi-organisasi sosial keagamaan dan politik.
6. Sangat senang mengikuti program talk show di televisi dan radio.
7. Ketika bermain atau berolahraga, sangat berilmu bermain secara tim (ganda atau kelompok) daripada bermain sendirian.
8. Selalu merasa bosan dan tidak berangasan dikala bekerja sendiri.
9. Selalu melibatkan diri dalam aneka macam kegiatan ekstrakurikuler.
10. Sangat peduli dan penuh perhatian pada masalah-masalah dan isu-isu sosial.
Secara umum, kecerdasan interpersonal dapat diamati dari perilaku seseorang. Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang berpengaruh cenderung bisa berdaptasi dengan lingkungan, senang bahu-membahu dengan orang lain, dan bisa menghargai orang lain serta memiliki banyak teman. Safaria (2005) juga menyebutkan karakteristik anak yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi, yaitu:
1. Mampu mengembangkan dan menciptakan kekerabatan sosial gres secara efektif.
2. Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara total.
3. Mampu mempertahankan kekerabatan sosialnya secara efektif sehingga tidak musnah dimakan waktu dan senantiasa berkembang semakin mendalam/penuh makna.
4. Mampu menyadari komunikasi lisan maupun nonverbal yang dimunculkan orang lain, atau dengan kata lain sensitif terhadap perubahan situasi sosial dan tuntutan-tuntutannya.
5. Mampu memecahkan persoalan yang terjadi dalam kekerabatan sosialnya dengan pendekatan win-win solution, serta yang paling penting yaitu mencegah munculnya persoalan dalam kekerabatan sosialnya.
6. Memiliki kemampuan komunikasi yang mencakup keterampilan mendengarkan efektif, berbicara efektif dan menulis secara efektif.
Aspek-aspek Kecerdasan Interpersonal
Anderson (1999) dalam Safaria (2005) menyatakan bahwa kecerdasan interpersonal mempunyai tiga dimensi utama yaitu social sensitivity, social insight, dan social communication. Ketiga dimensi ini merupakan satu kesatuan utuh dan ketiganya saling mengisi satu sama lain.
a. Kepekaan sosial (social sensitivity)
Kepekaan sosial yaitu kemampuan anak untuk bisa mencicipi dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik secara lisan maupun non-verbal. Kepekaan sosial ini meliputi sikap empati dan sikap pro-sosial. Empati merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Sedangkan sikap pro-sosial yaitu sebuah tindakan moral yang harus dilakukan secara kultural menyerupai berbagi, membantu seseorang yang membutuhkan, bekerjasama dengan orang lain, dan mengungkapkan simpati. Adapun indikator dari aspek kepekaan sosial yaitu sebagai berikut: (1) memiliki kemampuan untuk bersikap empati terhadap orang lain dan (2) memiliki kemampuan untuk bersikap pro-sosial.
b. Pandangan sosial (social insight)
Pandangan sosial yaitu kemampuan dalam memahami dan mencari pemecahan persoalan yang efektif dalam suatu interaksi sosial. Pandangan sosial meliputi pemahaman situasi dan sopan santun sosial, keterampilan pemecahan persoalan dan kesadaran diri yang merupakan pondasi dasar dari pandangan sosial. Adapun indikator dari aspek pandangan sosial yaitu sebagai berikut: (1) memiliki kesadaran diri; (2) memiliki pemahaman sopan santun sosial dan situasi sosial; dan (3) memiliki kemampuan pemecahan persoalan yang efektif.
c. Komunikasi sosial (social communication)
Komunikasi sosial yaitu penguasaan keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Inti dari komunikasi sosial yaitu komunikasi yang efektif dan mendengarkan secara efektif. Adapun indikator dari aspek pandangan sosial yaitu sebagai berikut: keterampilan melaksanakan komunikasi secara efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *